Skip to main content
Kembali Ke Pojok Konsultasi
Agama
Umum
Rabu, 12 Agustus 2026  -  20 Pembaca

Ketika Perceraian Terasa sebagai Satu-Satunya Jalan, Apakah Itu Berdosa?

Ketika Perceraian Terasa sebagai Satu-Satunya Jalan, Apakah Itu Berdosa?

Pertanyaan

Sudah tiga kali suami ketahuan selingkuh dan setiap kali dimaafkan, ujung-ujungnya diulangi lagi. Rasanya sudah capek dan ingin bercerai, tetapi orang tua bilang perceraian dibenci Allah dan meminta untuk tetap bertahan. Kalau akhirnya memilih pergi karena sudah tidak sanggup, apakah itu termasuk dosa?

Dalam kondisi ketika perselingkuhan telah terjadi berulang kali, kesempatan sudah diberikan, tetapi tidak ada perubahan yang sungguh-sungguh, memilih bercerai tidak serta-merta menjadikan seseorang berdosa. Islam memang menganjurkan agar pernikahan dipertahankan dan setiap persoalan diupayakan penyelesaiannya, tetapi seseorang juga tidak diwajibkan terus bertahan dalam hubungan yang menimbulkan luka, hilangnya rasa aman, dan kehilangan jati diri. Nasihat orang tua tetap patut dihormati, namun keputusan akhir perlu mempertimbangkan keadaan rumah tangga yang benar-benar dijalani serta apakah masih ada usaha nyata dari kedua belah pihak untuk memperbaikinya.

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Perselingkuhan yang terjadi berulang kali dapat meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar hilangnya kepercayaan. Seseorang bisa terus mencoba memaafkan, mempertahankan rumah tangga, dan berharap pasangannya berubah, tetapi pada saat yang sama perlahan kehilangan ketenangan, rasa aman, bahkan jati dirinya sendiri. Karena itu, munculnya keinginan untuk bercerai dalam keadaan seperti ini tidak selalu lahir dari emosi sesaat, melainkan dapat menjadi akibat dari beban yang telah terlalu lama dipendam.

Dalam mempertimbangkan kelanjutan pernikahan, hal yang perlu dilihat bukan hanya seberapa sering permintaan maaf disampaikan, tetapi apakah benar-benar ada perubahan yang nyata. Pernikahan tidak dapat dipertahankan oleh satu pihak saja. Jika satu pihak terus memberi kesempatan, sedangkan pihak lainnya tetap mengulangi kesalahan yang sama, maka penting untuk mempertanyakan apakah hubungan tersebut masih sedang diperjuangkan bersama atau hanya dipertahankan karena rasa takut terhadap perceraian.

Islam memang menempatkan pernikahan sebagai ikatan yang mulia. Namun, tujuan pernikahan bukan semata-mata agar dua orang tetap bersama dalam keadaan apa pun. Allah berfirman:

┘è ┘Ä┘ê ┘É┘à Ϭ┘É ┘ç ┘å ┘Ä┘é ┘░ ┘É ┘à ┘å ┘Å┘â ┘à Ϻ Ϻ┘Ä ┘å ┘ÄÏ«┘ä┘Ä ┘è ┘Ä┘çϺ ┘Ä┘ê ┘ÄϼÏ╣┘Ä ┘Ä┘ä ┘ÉÏ│ ┘Å┘â ┘à ┘ä┘Ä ┘êϺ Ϻ┘É┘ä┘Ä Ï│ ┘Å┘â┘å┘ŠϺ┘Ä Ï▓ ┘Ä┘êϺ ┘ïϼϺ ┘É┘ä Ϭ┘Ä ┘Å┘â ┘à Ϻ┘Ä ┘å┘ü┘Å ┘Ä┘æ┘à ┘Ä┘ê ┘Ä┘æÏ»Ï®┘ï Ï¿┘Ä ┘è┘å┘Ä ┘ü┘É ┘É┘ä ┘Ä┘â ┘è Ϻ┘É ┘Ä┘æ┘å ┘Ä┘æ┘ê ┘ÄÏ▒ Ï¡ ┘Ä┘àÏ®┘ï Ï░ ┘░┘è Ϭ ┘░ ┘ê ┘à ┘Ä┘Ä┘ä┘░ ┘ê ┘Ä┘å ┘É┘é┘Ä ┘Ä┘æ┘â┘ÅÏ▒ ┘ä ┘è┘Ä┘æÏ¬┘Ä┘ü┘Ä

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa pernikahan seharusnya menjadi tempat hadirnya ketenteraman, cinta, dan kasih sayang. Tentu, setiap rumah tangga memiliki masalah. Namun, perselingkuhan yang terus berulang bukan lagi sekadar persoalan kecil yang dapat diselesaikan dengan kesabaran satu pihak. Memaafkan adalah hal yang baik, tetapi memaafkan tidak selalu berarti harus terus menerima luka yang sama. Demikian pula, menghormati nasihat orang tua tidak berarti seseorang harus mengabaikan kondisi dirinya sendiri. Orang tua dapat memberikan pertimbangan, tetapi yang menjalani langsung akibat dari pernikahan tersebut adalah suami dan istri.

Apabila berbagai upaya perbaikan telah dilakukan, kesempatan telah diberikan, tetapi tidak ada perubahan yang sungguh-sungguh, maka memilih berpisah tidak serta-merta menjadikan seseorang berdosa. Allah berfirman:

┘Ä┘êϺ┘É ┘å Ϻ ┘Ä┘æÏ▒┘é┘Ä Ï║ ┘É┘å ┘è┘Ä┘æÏ¬┘Ä┘ü┘Ä ┘è┘Å ┘à ┘Å┘â┘ï┘æ┘ä ┘É ┘å ┘æ┘░┘ä┘äϺ┘Å ┘Ä┘ê ┘Ä┘âϺ ┘Ä┘å ┘ÄÏ│Ï╣┘ÄϬ┘É ┘ç ┘Å ┘æ┘░┘ä┘äϺ ┘Ä┘êϺ ┘ÉÏ│Ï╣┘ïϺ ┘ÄÏ¡┘É┘â ┘è ┘ï┘àϺ

“Jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan (karunia)-Nya. Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)

Perceraian tetap merupakan keputusan besar yang perlu dipertimbangkan dengan tenang, matang, dan tidak tergesa-gesa. Namun, bertahan juga tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Pada akhirnya, yang perlu dinilai bukan hanya apakah pernikahan masih dapat dipertahankan, tetapi juga apakah hubungan tersebut masih memberikan ruang bagi kedua pihak untuk hidup dengan aman, dihargai, dan diperlakukan dengan baik.

Tags

  • Perceraian dalam Islam
  • Perselingkuhan
  • Takut Berdosa
  • Pernikahan Tidak Sehat
  • Nasihat Orang Tua
  • Kehilangan Jati Diri
  • Mempertahankan Rumah Tangga
  • Hukum Perceraian Islam
  • Pasangan Tidak Berubah
  • Pertimbangan Sebelum Bercerai

Sebelum mengirimkan pertanyaan, pastikan Anda sudah menggunakan fasilitas pencarian Bercerai.com untuk mengetahui apakah sudah ada artikel yang membahas menjawab masalah yang hendak Anda tanyakan.

+62
Izinkan tim Bercerai.com menghubungi Anda
Tampilkan cerita saya secara anonim.
Tanya Kami Sekarang