Suami Berselingkuh, Saya yang Membesarkan Anaknya
Pertanyaan
Saya menggugat cerai setelah tahu suami punya anak dari selingkuhannya, tetapi sebelum prosesnya selesai suami meninggal. Beberapa minggu kemudian, keluarga suami datang membawa anak itu karena ibu kandungnya pergi dan tidak bisa dihubungi. Mereka bilang karena saat suami meninggal saya masih berstatus istrinya, saya seharusnya merawat anak tersebut, dan ketika menolak saya disebut tega serta hanya menyimpan dendam. Apa saya salah kalau memilih melanjutkan hidup dan tidak membesarkan anak yang sejak awal bukan tanggung jawab saya?
Jawaban dari praktisi
Tidak, memilih untuk tidak membesarkan anak tersebut tidak membuat Anda jahat. Anak itu memang tidak bersalah, tetapi tanggung jawab pengasuhannya tidak otomatis berpindah kepada istri almarhum. Rasa kasihan boleh ada, tetapi tidak harus berubah menjadi tanggung jawab seumur hidup. Sampaikan kepada keluarga bahwa anak tersebut perlu mendapatkan pengasuhan yang aman dari keluarga biologisnya karena saat ini Anda sedang berduka dan tidak siap menjadi ibunya. Melanjutkan hidup bukan berarti lari dari tanggung jawab, sebab tanggung jawab itu memang bukan milik Anda sejak awal.
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Hal pertama yang perlu dilakukan bukan langsung memutuskan apakah Anda akan membesarkan anak itu atau tidak. Untuk sekarang, katakan kepada keluarga suami bahwa Anda sedang berduka dan belum siap mengambil keputusan sebesar ini. Minta mereka memastikan anak tersebut tetap berada dalam pengasuhan yang aman bersama keluarga biologisnya, sementara semua pihak mencari jalan yang lebih tepat. Jangan biarkan keadaan mendesak membuat Anda mengatakan “iya” untuk tanggung jawab seumur hidup.
Anda bisa menyampaikannya dengan sederhana: “Saya kasihan dan tidak menyalahkan anak ini, tetapi saya belum siap menjadi orang yang membesarkannya. Untuk sementara, keluarga perlu mencari pengasuhan lain sambil kita membicarakan langkah selanjutnya.” Kalimat ini menunjukkan bahwa Anda peduli, tetapi tetap memiliki batas.
Wajar apabila Anda merasa serba salah. Anda sedang menghadapi kehilangan suami sekaligus mengetahui pengkhianatan yang belum sempat diselesaikan karena proses perceraian terhenti oleh kematiannya. Dalam kondisi seperti ini, rasa sedih, marah, kecewa, kasihan, dan bersalah bisa muncul bersamaan. Itu bukan berarti Anda tidak punya hati. Anda hanya sedang menerima terlalu banyak hal dalam waktu yang sangat singkat.
Anak tersebut memang tidak bersalah, tetapi Anda juga bukan penyebab dari keadaan ini. Rasa kasihan tidak sama dengan kesiapan menjadi ibu. Membesarkan anak akan memengaruhi waktu, tenaga, keuangan, dan seluruh arah hidup Anda.
Kalau keluarga tidak menekan dan tidak ada yang menilai Anda, apakah Anda sendiri benar-benar menginginkan kehidupan tersebut?
Jangan hanya menerima janji, “Nanti kami bantu.” Minta keluarga menjelaskan secara nyata siapa yang akan mengasuh, membiayai kebutuhan anak, mengurus sekolah dan kesehatannya, serta bertanggung jawab dalam jangka panjang. Bayangkan ketika beberapa bulan telah berlalu dan perhatian keluarga mulai berkurang: apakah seluruh tanggung jawab akhirnya akan ditinggalkan kepada Anda?
Anda boleh membantu sebatas yang memang sanggup dilakukan tanpa mengambil peran sebagai ibu. Menolak menjadi pengasuh utama bukan berarti Anda membenci atau menghukum anak tersebut. Anda sedang jujur bahwa hidup dan masa depan Anda juga perlu dipikirkan. Beri diri Anda waktu, jangan memutuskan dalam tekanan, dan ingat bahwa Anda bukan sekadar istri almarhum yang harus membereskan semua yang ia tinggalkan. Anda juga manusia yang sedang terluka dan berhak menentukan kehidupan seperti apa yang sanggup Anda jalani.
Tags
- Psikologi Perceraian
- Luka Pengkhianatan
- Proses Perceraian
- Pernikahan Tidak Sehat
- Kesehatan Mental
- Duka
- Konsultasi Psikologi
- Anak
- Rasa Bersalah
- Psikologi